Webinar Literasi Digital Kota Jambi Ulas “Memanfaatkan Konten Digital dengan Cara Positif”

sekitarjambi.com – Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kota Jambi terus bergulir. Pada Jumat, 27 Agustus 2021 mulai pukul 09.00 WIB, telah dilangsungkan webinar bertajuk “Memanfaatkan Konten Digital dengan Cara Positif”.

Kegiatan masif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini, bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif, sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif untuk mengidentifikasi hoaks, serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pada webinar yang dihadiri 122 peserta daring ini, hadir dan memberikan materinya secara virtual, para narasumber berkompeten dalam bidangnya, yakni Karlina Octaviany, M.Sc. selaku Digital Access Programme Adviser British Embassy Jakarta, Ida Ayu Prasastiasih Dewi, S.I.Kom., M.P.P. selaku Communication Specialist, Siti Masnidar, S.E. selaku Ketua Bidang Gender dan Anak Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi, Ariyandi Batu Bara, S. Ud., M. Ud selaku DLB Fakultas Dakwah UIN STS Jambi. Selain itu, pegiat media sosial yang juga merupakan Senior Anchor Metro TV, @wahyuwiwoho bertindak sebagai Key Opinion Leader dan memberikan pengalamannya.

Pada sesi pertama, Karlina Octaviany mengatakan, setiap konten yang dihasilkan harus lebih dulu dilakukan dengan mengenali target sasaran.

“Siap viral siap resiko, tips dan trik membuat konten yang siap viral yaitu kenali target audiens dan cari nilai unik, tentukan media sosial yang tepat, dan dengarkan masukan target, buat rancangan konten bulanan, riset, cek fakta, dan template respon,” paparnya.

Giliran sebagai pembicara kedua, Ida Ayu Prasastiasih Dewi menuturkan, mMemanfaatkan konten digital dengan cara positif, diantaranya dilakukan dengan bagaimana menghargai hasil karya orang lain, bagaimana berkomentar yang santun di dunia digital, serta bagaimana toleransi terhadap perbedaan di dunia digital dan mengunggah konten positif.

Tampil sebagai pembicara ketiga, Siti Masnidar menjelaskan kebebasan berekspresi dan berpendapat juga harus mengetahui bahwa batasan dari kebebasan tersebut adalah ada hak orang lain, dan juga terdapat undang-undang yang telah mengatur.

Pembicara keempat, Ariyandi Batu Bara menegaskan, Siber/Dunia Maya Simulakrum adalah meruahnya bangunan dan model yang diadakan dan disajikan kepada publik di berbagai tempat di dunia dibuat.

“Menurut Jean Baudrillard, sebagai hasil dari kebutuhan tak terkendali untuk menghasilkan imitasi demi kenikmatan massa belaka,” ujarnya.

@wahyuwiwoho sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini menuturkan, memanfaatkan konten digital dengan cara positif jelas ada tolok ukurnya, selama berada di ruang kebebasan demokrasi, artinya tetap ada batasnya sesuai dengan norma etika.

“Pasti kita akan share otomatis selalu menghadirkan konten-konten yang toolnya positif,” ujarnya.

Pada webinar kali ini, para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber.

Sopianto, salah seorang peserta menanyakan “Untuk buat konten yang menarik itu nggak mudah dan boleh dibilang lumayan susah, saya sudah beberapa kali coba tapi tetap sedikit followersnya, terus nggak banyak yang like. Bagaimana cara menambah followers yang banyak dengan cepat?”. Pertanyaan selanjutnya oleh peserta bernama Halim pradana, yang menanyakan “Bagaimana kita secara kolektif sebagai sebuah bangsa mengubah etika di dunia siber menjadi lebih baik, karena sebagaimana kita ketahui, netizen Indonesia menurut riset microsoft adalah netizen yang berperilaku buruk di dunia maya, dan netizen itu sendiri yg menjustifikasi riset tersebut?”. Pertanyaan berikutnya hadir dari Iis Qoimatul Ummah, menanyakan “Dengan kemudahan mengakses informasi zaman sekarang di media sosial banyak informasi-informasi yang positif dan negatif, sehingga dengan mudah anak mengaksesnya. Lalu bagaimana cara membatasi anak dalam mengakses informasi-informasi negatif yang ada di media sosial?”, dan pertanyaan hadir dari Yudha, yang menanyakan “Ketika bicara konten positif, makna positif bagi setiap orang menjadi bias dan intersubyektif ketika didasari pada makna konten-positif. Dan konten tanpa kaidah yg datangnya dari platform e-news atau pejabat pejabat pemerintah yang sering sekali tidak menggunakan makna positif dalam konten kontennya. Tanggapannya saudara bagaimana akan maraknya hal tersebut?”.

Diketahui, webinar ini merupakan kegiatan ketujuh belas dari 37 kali webinar yang akan diselenggarakan di Kota Jambi. (Tim)

Bagikan
error: