BI Ungkap Penyebab Rupiah Tembus Rp 18.000,- per Dolar AS

sekitarjambi.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan hingga menembus level Rp 18.000,- per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pelemahan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada perekonomian global.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” ujar Destry dalam keterangan resminya pada Kamis (4/6/2026).
Selain faktor global, BI juga mencatat tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
“Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN),” ujarnya.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.52 WIB, nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp 18.041,- per dolar AS atau turun sekitar 0,41 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Meski demikian, BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter dan intervensi di pasar keuangan.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” tegas Destry.
Destry juga menegaskan bahwa BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro pasar guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor. Sebelumnya, BI menilai pelemahan rupiah masih relatif sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan. Secara year to date (YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen, sementara cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai.
“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah -7,44 persen. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026.” tutup Destry. (Iz)
