Harga Kopi di Kabupaten Kerinci Anjlok Tajam

sekitarjambi.com – Harga biji kopi kering robusta asal Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh mengalami penurunan drastis hingga 30 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Sebelumnya, harga kopi robusta berada di kisaran Rp 70.000,- hingga Rp 80.000,- per kilogram, namun kini merosot tajam menjadi Rp 40.000,- hingga Rp 50.000,- per kilogram. Sementara itu, harga kopi arabika relatif stabil di kisaran Rp 15.000,- hingga Rp 20.000,- per kilogram.
Menurut salah seorang pemilik rumah produksi kopi di Kabupaten Kerinci, Sardoni, penurunan harga membuat perputaran penjualan kopi merosot drastis dari yang biasanya bisa menjual tiga kali dalam sepekan, kini hanya dua kali dalam sebulan.
“Dulu, dalam seminggu saya bisa menjual tiga kali. Sekarang, sejak harga turun, hanya dua kali dalam sebulan,” ungkap Sardoni, dikutip pada Senin (11/8/2025).
Faktor utama penyebab penurunan harga ini antara lain adalah musim kemarau panjang, melimpahnya pasokan kopi dari luar daerah, serta menurunnya harga pasar kopi dunia. Menurut salah seorang pedagang kopi, Mulyadi, harga biji kopi kering menurun sejak Juni hingga saat ini hanya sekitar Rp 46.000,- per kilogram. Padahal sebelumnya sempat mencapai harga Rp 70.000,- per kilogram.
“Penurunan harga ini sudah mulai sejak Juni lalu,” ujar Mulyadi.
Ia menjelaskan bahwa menurunnya harga dipicu oleh meningkatnya produksi kopi dunia, yang menyebabkan kelebihan pasokan dan melemahnya permintaan.
“Tahun ini produksi kopi global naik, jadi harga otomatis turun,” ungkapnya.
Meski harga anjlok, Mulyadi tetap melanjutkan distribusi biji kopi dari petani di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci ke berbagai pasar dalam dan luar negeri.
“Kopi dari sini kita kirim ke pasar-pasar di Medan, bahkan sampai ke Mesir.” tutupnya.
Permintaan terbesar biasanya datang dari UMKM pembuat kopi bubuk dan kafe, baik di Kabupaten Kerinci maupun luar daerah. Namun kini pembelian dilakukan sekadar memenuhi pesanan, tanpa ada keinginan untuk menyimpan stok lebih. Turunnya harga dan turunnya permintaan baik dari rumah produksi UMKM kopi bubuk serta kafe membuat pemilik rumah produksi, pedagang, dan petani kopi terpukul. (Iz)
