HUKUM KRIMINAL

Dikenal Berprestasi, Misri Mantan Finalis Gadis Kota Jambi Jadi Tersangka Kasus Pembunuhan Polisi di NTB

sekitarjambi.com – Misri Puspita Sari (23), wanita cantik asal Kota Jambi ditetapkan sebagai tersangka, bersama dua anggota polisi atas kematian Brigadir Nurhadi yang merupakan anggota PROPAM POLDA Nusa Tenggara Barat (NTB).

Siapa sangka, Misri adalah wanita yang dikenal memiliki segudang prestasi. Sejak TK hingga SMA, ia sudah menggeluti dunia modelling. Hobinya tersebut turut didukung oleh pihak keluarga. Berbagai prestasi modelling pernah ia ukir, khususnya di tingkat lokal seperti Duta Inklusi Keuangan, Gadis Photogenic, pernah mengikuti pemilihan Bujang Gadis Kota Jambi, hingga kegiatan modelling oleh pihak swasta lainnya.

Misri merupakan seorang yatim dari keluarga sederhana. Ia juga saat ini merupakan tulang punggung keluarga, sebagai kakak tertua dari 5 (lima) bersaudara. Sebelum meninggal dunia pada tahun 2023, ayah Misri berprofesi sebagai seorang buruh dan penjual ikan.

DIRRESKRIMUM POLDA Nusa Tenggara Barat, Kombes Pol Syarif Hidayat, mengatakan bahwa Brigadir Nurhadi tewas di kolam renang saat datang ke penginapan bersama dua atasannya, yakni Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Ipda Haris, untuk menghadiri pesta pribadi.

Kombes Syarif Hidayat menyatakan bahwa pembunuhan ini diduga dipicu oleh korban yang merayu teman wanita salah satu tersangka.

“Ada peristiwa Almarhum mencoba untuk merayu dan mendekati rekan wanita salah satu tersangka, itu ceritanya. Diduga merayu dan itu dibenarkan oleh saksi yang ada di TKP,” ujar Syarif dikutip pada Sabtu (12/7/2025).

Diketahui Misri menerima bayaran Rp 10 juta dari Kompol I Made Yogi Purusa Utama. Uang tersebut adalah imbalan untuk menemaninya berpesta dan bermalam di vila yang berlokasi di Gili Trawangan.

Pengacara Misri Puspita Sari, Yan Mangandar Putra Yan, menjelaskan bahwa Misri Puspita Sari dan Yogi sudah saling mengenal sejak tahun 2024, namun hanya sepintas. Yogi sempat dekat dengan teman Misri di Jakarta. Pertemuan mereka berlanjut ketika Yogi menghubungi Misri melalui Instagram, kemudian berlanjut ke WhatsApp, hingga akhirnya berkomunikasi pada 15 April 2025, sehari sebelum pembunuhan.

“Tanggal 15 itu Yogi mengontak Misri, membujuk ayo ke Lombok, temani saya liburan disini sama di Gili Trawangan,” ujar Yan.

Misri menyanggupi tawaran tersebut dengan kesepakatan bahwa seluruh biaya akomodasi, transportasi, dan jasa sebesar Rp 10 juta per malam ditanggung oleh Yogi. Setibanya di Lombok, Misri dijemput oleh Brigadir Nurhadi, yang disebut sebagai sopir Yogi.

Di vila, Misri mendapati sudah ada tiga orang yakni Yogi, Haris, dan seorang perempuan bernama Melanie Putri yang menemani Haris (bukan istri Haris).

Berdasarkan keterangan Misri saat diperiksa tim penyidik POLDA NTB pada 9 Juli 2025 lalu, malam kejadian para pelaku dan korban sempat terlibat pesta narkoba. Mereka juga mengonsumsi obat penenang yakni Riklona dan Inex.

“Mendekati malam, mereka mulai partynya. Semuanya konsumsi obat. Jadi ada dua jenis obat, yang pertama obat penenang Riklona, dikonsumsi masing-masing satu biji,” ujar Yan.

Riklona dibeli Misri di Bali atas perintah Yogi dengan mentransfer uang Rp 2 juta, sementara Inex dibawa oleh Yogi. Yan mengonfirmasi bahwa Nurhadi sempat mencium Melanie Putri, perempuan yang dibawa Haris, saat semua dalam kondisi kurang sadar.

“Saat semua mengalami kondisi kurang sadar, Misri sempat melihat Nurhadi mendekati sampai menciumi Melanie Putri di atas kolam. Misri menegur Nurhadi dengan mengatakan ‘Jangan begitu, itu cewek abangmu’,” ujar Yan.

Tak lama setelah itu, Haris dan Melanie Putri kembali ke kamar mereka di hotel sebelah. Sementara Yogi ke kamar tidur-tiduran, sedangkan Misri duduk di sekitar kolam. Misri sempat merekam Brigadir Nurhadi sebelum tewas. Video berdurasi 7 detik tersebut menjadi momen terakhir Nurhadi terlihat hidup, sebelum akhirnya ia ditemukan tewas dengan kondisi penuh luka, termasuk tulang lidahnya (hyoid) yang patah akibat dicekik.

Lebih lanjut Yan menjelaskan bahwa kliennya merekam Nurhadi karena dalam kondisi mabuk atau fly, dan melihat tingkah Nurhadi yang lucu. Setelah itu Misri mengaku tidak bisa mengingat jelas kejadian setelah itu.

Kasus kematian Brigadir Nurhadi masih menjadi teka-teki meski POLDA NTB telah menetapkan Kompol Yogi, Ipda Haris, dan Misri sebagai tersangka. Polisi menduga Brigadir Nurhadi tewas di kolam vila akibat dianiaya. Namun, penyidik belum menemukan pelaku penganiayaan tersebut. Sementara itu, hasil autopsi menunjukkan adanya sejumlah luka pada tubuh Nurhadi. Ahli forensik menemukan adanya patah pada tulang lidah korban yang diduga akibat cekikan. (Iz)

Please follow and like us:
Pin Share
Instagram