BWSS VI Jambi Ungkap Uji Coba Turbin PLTA Jadi Penyebab Turunnya Muka Air Danau Kerinci

sekitarjambi.com – Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (BWSS VI) Jambi mengungkap hasil temuan terkait penurunan tinggi muka air Danau Kerinci yang dilaporkan mencapai sekitar 2 meter dari kondisi normal. Penurunan tersebut dipastikan dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis dan alamiah.
BWSS VI Jambi menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap surutnya Danau Kerinci adalah uji coba pengoperasian turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci Merangin Hidro. Uji coba dilakukan dengan membuka pintu air pada ambang tertentu guna mengalirkan air ke turbin.
“Akibat uji operasional PT KMH sebagai pihak yang menjalankan PLTA. Sudah ada rapat diskusi uji coba pengaliran untuk pembangkit,” ujar Kepala BWSS VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, dikutip pada Jumat (30/1/2026).
Ia menerangkan bahwa uji coba turbin yang dilakukan perusahaan tersebut telah berjalan pada 1-16 Januari 2026, melalui pemberitahuan yang dilayangkan perusahaan ke Kementerian PUPR. Dalam uji coba tersebut, PT KMH mengoperasikan satu dari tiga turbin yang ada dengan menurunkan ketinggian pintu air sekitar 20 centimeter (cm).
Meski demikian, BWSS menegaskan bahwa pengoperasian turbin tersebut bukan satu-satunya penyebab turunnya muka air danau. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah rendahnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga debit air masuk ke danau berkurang secara signifikan.
Selain itu, tingginya tingkat penguapan akibat suhu udara yang meningkat juga disebut mempercepat penyusutan volume air di Danau Kerinci. Kondisi tersebut diperparah oleh berkurangnya pasokan air dari sungai-sungai yang bermuara ke danau.
BWSS memastikan pihak perusahaan akan bertanggung jawab terhadap daerah yang terdampak dari penyusutan muka air di danau seluas 4.200 hektare tersebut. Dijelaskan bahwa perusahaan memastikan akan menyediakan bak penampungan air (tandon) guna memenuhi kebutuhan air baku masyarakat yang terdampak.
“Air yang terlihat surut itu berada di pinggir danau, secara umum masih normal. Penyusutan bervariasi tergantung wilayah. Berdasarkan laporan masyarakat ada yang mencapai satu meter,” ujar Joni Rahalsyah Putra.
Penurunan muka air Danau Kerinci sendiri telah berdampak pada aktivitas masyarakat sekitar, terutama nelayan yang kesulitan beroperasi akibat dangkalnya perairan di sejumlah titik. BWSS mengimbau seluruh pihak untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi, sembari menunggu hasil kajian lanjutan yang lebih komprehensif terkait pengelolaan dan pemanfaatan air Danau Kerinci ke depan. (Iz)
