Harga Minyak Dunia Melonjak, Kementerian ESDM Waspadai Potensi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

sekitarjambi.com – Lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertengger di atas level US$100 per barel mulai menekan biaya keekonomian Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri. Pengaruh konflik geopolitik dan dinamika rantai pasok global berpotensi mendorong penyesuaian harga jenis Pertamax Series hingga berada di kisaran Rp 18.000,- hingga Rp 20.000,- per liter.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI menegaskan bahwa penetapan harga BBM nonsubsidi di pasar domestik sangat bergantung pada perkembangan indeks harga minyak internasional. Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, menanggapi kondisi memanasnya minyak global tersebut saat berada di Kompleks Istana Kepresidenan.
“Memanasnya geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia bertengger di atas US$100 per barel. Kondisi ini membuat ketar-ketir konsumen BBM nonsubsidi di Indonesia karena harga Pertamax Series bisa menembus Rp 20.000,- per liter,” ujar Bahlil Lahadalia.
Kenaikan selisih harga yang cukup lebar antara BBM nonsubsidi dan subsidi dikhawatirkan memicu pergeseran sebagian pengguna BBM nonsubsidi (Pertamax) kembali ke BBM subsidi (Pertalite). Bahlil turut mengimbau agar masyarakat kalangan mampu tetap bertanggung jawab dan tidak berpindah mengonsumsi BBM bersubsidi.
“Kalau BBM nonsubsidi, itu akan disesuaikan dengan kondisi geopolitik dan harga minyak dunia. Tapi yang paling penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Jangan sampai masyarakat mampu ikut mengambil hak masyarakat kurang mampu, apa tidak malu?,” tegas Bahlil.
Selain menjaga skema harga BBM bersubsidi, Menteri ESDM RI memastikan stok nasional berada pada level aman untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Kementerian ESDM RI mencatat cadangan BBM nasional saat ini berkisar antara 18 hingga 20 hari.
“BBM itu secara cadangan stok nasional kita berada dalam batas aman nasional, yaitu 18 sampai 20 hari. Pemerintah juga sedang menyiapkan aturan agar pembeli BBM nonsubsidi tidak beralih menggunakan BBM bersubsidi,” tambah Bahlil.
Dalam hal ini, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah guna meminimalkan efek berantai terhadap inflasi nasional. Di sisi lain, kuota serta penyaluran BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dijaga ketat agar daya beli masyarakat berpenghasilan rendah tetap terlindungi. (K)
