DAERAH

Dahaga Belum Usai, Petani di Kabupaten Muaro Jambi Berjibaku Selamatkan Sisa Tanaman Padi Pasca Kemarau Panjang

sekitarjambi.com – Turunnya curah hujan di sejumlah wilayah Kabupaten Muaro Jambi ternyata belum sepenuhnya menorehkan kelegaan bagi para petani lokal. Setelah hampir tiga bulan berturut-turut didera musim kering ekstrem, lahan persawahan tadah hujan yang terletak di Desa Rengas Bandung, Kecamatan Jambi Luar Kota, hingga kini masih kekurangan pasokan air memadai untuk memulihkan kembali kondisi tanaman padi.

Ancaman gagal panen masih membayangi para petani yang berjuang keras mempertahankan sisa tanaman mereka. Hamparan luas area persawahan yang mulanya bernuansa hijau subur kini sebagian besar bertransformasi menjadi daratan kering. Struktur tanah di areal persawahan tampak pecah-pecah dan retak akibat dehidrasi berat, sementara tanaman padi yang telah memasuki usia tanam sekitar tiga bulan banyak yang mengering serta tak lagi dapat diselamatkan.

Salah seorang petani setempat, Mahmud, pada Minggu, 1 November 2026, menceritakan bahwa hujan yang sempat turun dalam beberapa waktu terakhir memang memberikan sedikit secercah harapan. Namun, intensitas curah hujan yang tergolong masih ringan hingga sedang belum memiliki daya cukup untuk meresap dan membasahi tanah persawahan secara menyeluruh.

“Kami sebenarnya senang pas hujan turun. Tapi sayang hujannya masih gerimis dan belum cukup buat basahin tanah. Sawah masih kering betul, jadi padinya belum bisa segar lagi seperti yang kita harapkan,” ujar Mahmud.

Mahmud menjelaskan bahwa kemarau yang terjadi kurang lebih tiga bulan terakhir membuat sebagian besar tanaman padi rusak parah. Bahkan padi yang sudah masuk usia produktif tidak sanggup bertahan karena kekurangan air.

“Sekarang kami cuma bisa ngerawat sisa padi yang masih ada aja. Yang masih hijau ini moga-moga masih bisa diselamatkan kalau nanti turun hujan lebat,” tutur Mahmud.

Sebagai petani yang menggantungkan hidup dari hasil panen, Mahmud dan rekan-rekannya sangat berharap hujan bisa turun lebih sering dan lebat. Jika kemarau kembali memanjang, sisa padi yang masih hijau dikhawatirkan bakal ikut mati dan memicu gagal panen total (puso).

“Harapan kami cuma satu, semoga hujan turun terus dan lebat. Supaya airnya bisa masuk ke sawah dan padi yang masih hijau ini bisa tahan. Kalau nggak ada air, ya kita bakal makin susah buat nyelamatin padi yang tersisa ini.” tutup Mahmud.

Melihat krisis air yang melanda sektor pertanian pada Minggu, 1 November 2026, warga berharap ada perhatian dan langkah cepat dari pemerintah daerah. Bantuan seperti pompa air atau suplai air darurat sangat dibutuhkan petani untuk mengairi sisa persawahan yang masih bisa diselamatkan. (K)