DAERAH

15 Ribu Ikan di Keramba Warga Sungai Duren Mati Massal, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

sekitarjambi.com – Kematian massal ikan terjadi di keramba milik warga Desa Sungai Duren, Kecamatan Jambi Luar Kota (JALUKO), Kabupaten Muaro Jambi. Sekitar 15 ribu ekor ikan dilaporkan mati dan menyebabkan pembudidaya mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Kepala Desa Sungai Duren, Zaini, mengatakan bahwa terdapat sekitar 150 pembudidaya ikan yang menggantungkan usaha mereka di kawasan tersebut. Jumlah keramba yang dimiliki masing-masing pembudidaya berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat besaran kerugian yang dialami warga juga tidak sama.

“Pembudidaya ikan di Desa Sungai Duren sekitar 150 orang. Masing-masing memiliki jumlah keramba yang beragam. Sekarang jumlah ikan yang mati berkisar 15 ribuan dan kerugian yang dialami pembudidaya mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Zaini pada Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kematian ikan diduga berkaitan dengan kondisi kualitas air Sungai Batanghari yang mengalami perubahan. Air sungai disebut dalam kondisi keruh, sementara debit air juga mengalami penyusutan akibat musim kemarau. Kondisi tersebut dinilai membuat ikan yang dibudidayakan di dalam keramba lebih rentan mengalami stres hingga akhirnya mati. Selain faktor musim kemarau, aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Batanghari juga disebut menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan memperburuk kualitas air.

“Faktornya beragam, mulai dari kemarau yang menyebabkan Sungai Batanghari surut, ditambah aktivitas PETI di wilayah Sungai Batanghari,” tegasnya.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Muaro Jambi menyatakan akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Tim DLH nantinya akan mengambil sampel air Sungai Batanghari untuk kemudian dilakukan pengujian di laboratorium.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muaro Jambi, Medison, mengatakan bahwa pengujian diperlukan untuk memastikan kondisi kualitas air sekaligus mengetahui apakah terdapat indikasi pencemaran yang berkaitan dengan kematian ikan tersebut.

“Uji air sungai ini untuk menentukan apakah kondisinya di bawah baku mutu atau di atas baku mutu. Jika hasilnya nanti di atas baku mutu, kita akan menelusuri dari mana sumber pencemaran itu terjadi. Sebaliknya, jika masih di bawah baku mutu, kami juga akan menyusun laporan resminya,” ujar Medison.

Meski demikian, hingga saat ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muaro Jambi mengaku belum menerima laporan resmi dari masyarakat maupun pemerintah desa terkait kematian ikan dalam jumlah besar tersebut.

“Sampai sekarang saya belum dapat informasi resmi dari masyarakat mengenai banyaknya ikan yang mati di sana,” ujarnya.

Medison mengimbau pemerintah desa maupun masyarakat segera memberikan informasi secara detail mengenai lokasi atau titik keramba tempat ikan ditemukan mati. Informasi tersebut dinilai penting agar tim Dinas Lingkungan Hidup dapat melakukan pengambilan sampel air pada lokasi yang tepat.

Hasil pengujian laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui kondisi kualitas air Sungai Batanghari dan memastikan penyebab kematian massal ikan yang dialami para pembudidaya di Desa Sungai Duren. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya parameter yang melebihi baku mutu, Dinas Lingkungan Hidup akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui sumber pencemaran. Sementara itu, para pembudidaya ikan masih menunggu kepastian penyebab kematian ikan yang telah menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah tersebut. (Iz)