Sungai Batanghari Makin Keruh, Warga Kota Jambi Terancam Krisis Air Bersih

sekitarjambi.com – Sungai Batanghari sebagai sumber utama air baku bagi PDAM Tirta Mayang Kota Jambi, mengalami peningkatan kekeruhan yang signifikan terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menyebabkan PDAM Tirta Mayang kesulitan mengolah air agar tetap memenuhi standar mutu untuk disalurkan ke pelanggan.
Direktur Utama Tirta Mayang, Dwike Riantara, menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan rutin laboratorium setiap jam, nilai kekeruhan (NTU-Nephelometric Turbidity Unit) di titik intake Aurduri dan Pulau Pandan telah meningkat dari kisaran normal 300-350 NTU menjadi 466, 700, 800, 900, bahkan mencapai 1.090 NTU pada Senin, 16 September 2025.
Nephelometric Turbidity Unit (NTU) adalah satuan standar untuk mengukur tingkat kekeruhan air. Diketahui, semakin tinggi angka NTU-nya, maka semakin keruh air tersebut.
“Dalam kondisi air baku yang kekeruhannya tinggi ini, proses pengolahan air oleh PDAM Tirta Mayang memerlukan dosis bahan kimia Koagulan hingga 50% lebih banyak dibanding kondisi normal. Untuk menjaga kualitas dan keamanan air bagi pelanggan, volume produksi dan distribusi terpaksa dikurangi 10% dari kondisi normal,” ujar Dwike, dikutip pada Kamis (18/9/2025).
Mengutip dari website resmi PDAM Tirta Mayang Jambi, saat ini bukan hanya kekeruhan yang meningkat, namun kualitas dan kuantitas air Sungai Batanghari telah terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Sedimentasi dari hulu menjadi salah satu penyebab utama.
Dwike Riantara menyebut bahwa dalam lima tahun terakhir, kekeruhan air meningkat, dan volume serta tinggi muka air cenderung menurun, memperlihatkan bahwa Sungai Batanghari semakin rentan terhadap kondisi ekstrem seperti kekeringan dan pencemaran berat.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi, juga pernah menyebutkan bahwa pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari cukup parah akibat kerusakan hulu seperti penebangan hutan dan penambangan emas ilegal (PETI). Kondisi ini memperparah masalah kualitas dan kuantitas air baku.
Selain itu, masalah pencemaran merkuri dari aktivitas PETI di hulu sungai juga sudah teridentifikasi sebagai ancaman terhadap mutu air dan kesehatan masyarakat, termasuk potensi akumulasi merkuri di sedimen dan organisme air. Direktur WALHI Jambi, Rudiansyah, menyebut bahwa pendangkalan DAS Batanghari sudah terjadi di Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kota Jambi.
“Kondisi ini jelas sangat membahayakan terhadap kehidupan manusia yang tinggal di sepanjang DAS Batanghari itu. Apalagi, akibat penambangan PETI tersebut, juga sudah mengakibatkan tercemarnya air sungai sehingga berbahaya jika dikonsumsi masyarakat,” ujarnya. (Iz)
