Jemaah Provinsi Jambi Ceritakan Pengalaman Berkesan di Jabal Nur Hingga Ungkap Tren Boneka Unta Sebagai Cenderamata dari Tanah Suci

sekitarjambi.com – Menunaikan ibadah haji bukan hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga menghadirkan pengalaman berharga melalui wisata religi di berbagai tempat bersejarah di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Momen tersebut dimanfaatkan para jemaah haji asal Provinsi Jambi untuk memperdalam sejarah Islam sekaligus membawa pulang berbagai oleh-oleh khas Tanah Suci sebagai kenang-kenangan bagi keluarga di kampung halaman.
Di sela rangkaian ibadah wajib, para jemaah berkesempatan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Mulai dari kawasan Jabal Rahmah, Jabal Tsur, Jabal Nur, dan lainnya menjadi destinasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi para jemaah.

Diungkapkan oleh seorang jemaah KLOTER BTH 24 asal Kabupaten Sarolangun, H. Mahmud Syah, wisata religi bukan sekadar perjalanan melihat tempat bersejarah, melainkan menjadi sarana untuk memahami perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menyebarkan ajaran Islam. Pengalaman tersebut ia peroleh saat berwisata ke Puncak Jabal Nur untuk mengunjungi Gua Hira yang merupakan tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.
“Yang paling bermakna dan itu memang membuat kaki saya rontok adalah sampai ke Gua Hira. Wisata ke Gua Hira, konon sampai ke tiga titik itu, Rasulullah, ya Allah, ia (Rasullullah) mencoba mengasingkan diri dari Mekkah. Kita lihat Mekkah jauhnya dari puncak itu. Dan itulah keseriusan beliau sebelum menerima wahyu itu. Dan itu betul-betul sampai di atas, kaki saya rontok,” ungkapnya.
Sebagai seorang guru Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Kabupaten Sarolangun, H. Mahmud Syah, bertekad akan menceritakan kepada para siswa/i-nya tentang pengalamannya berwisata ke Gua Hira, tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah dalam menegakkan agama Islam. Hal tersebut akan dilakukannya, sebagai pembelajaran tentang sejarah Islam dan keteladanan akhlak Rasulullah SAW.
“Jadi benar-benar rintangan kita naik ke atas (Jabal Nur) betul-betul penuh, memang harus atur napas, betul-betul fisik. Dan memang terbayangkan, di usia beliau 40 (tahun) masih muda, tapi sangat jauh. Dan Siti Khadijah mengantarkan nasi. Masyaallah, perjuangan wanita untuk menegakkan agama kita. Maka kita sudah wajib, apalagi guru, menceritakan bagaimana Rasulullah berjuang untuk menegakkan agama, terutama untuk mengubah akhlak kita, menjadi orang yang benar. Itu yang paling berkesan sampai hari ini. Itu, dan saya bertekad sampai di sekolah akan bercerita kepada anak-anak nanti,” tuturnya.

Seorang jemaah lainnya yang juga tergabung dalam KLOTER BTH 24 asal Kabupaten Sarolangun, Hj. Pika Septia, turut mengungkap pengalaman berkesannya saat berwisata religi menuju puncak Jabal Nur untuk melihat Gua Hira. Meski masih berusia 23 tahun, ia mengaku sempat kehabisan napas hingga tidak mampu melanjutkan pendakian. Pengalaman tersebut membuatnya semakin menghayati perjuangan Rasulullah SAW dan larut dalam rasa haru.
“Menurut saya yang paling berkesan itu pas pendakian mau ke Gua Hira. Di pendakian itu saya belum sampai separuh perjalanan, bahkan seperempat perjalanan tidak sampai, saya sudah sesak napas. Itu saya berpikir, Masyaallah, berarti ini dulu nabi perjuangannya tidak main-main. Disitu pas saya sudah berhenti, saya langsung menangis. Ya Allah, ini beneran kisahnya seperti ini. Jadi yang lain sudah ke atas dan saya belum mencapai ke atasnya. Di situ saya merasa, ya Allah, ampunilah dosa saya,” ungkapnya.
Selain membawa pulang pengalaman berkesan berwisata religi di Jabal Nur, ia juga tidak melupakan tradisi berbagi kebahagiaan melalui oleh-oleh khas Arab Saudi, yang dibeli untuk dibagikan kepada keluarga, tetangga, hingga kerabat yang telah mendoakan keberangkatannya ke Tanah Suci. Beragam oleh-oleh mulai dari pakaian hingga perhiasan khas Arab, dibeli untuk dibagikan di kampung halaman. Bahkan, sebagian barang oleh-oleh terpaksa dikirim melalui paket karena melebihi kapasitas barang bawaan.
“Selain ini (boneka unta), saya juga ada beli baju. Juga ada perhiasan-perhiasan. Terus ini yang besar (boneka unta), sebenernya ini tuh banyak, cuma saya paketin. Soalnya tidak sanggup bawa kayak orang-orang gitu. Ribet gitu. Jadi saya bawa yang kecil-kecil gini, biar ringkas. Yang besar-besar ini saya paketin,” ujar Hj. Pika Septia.

Berbeda dengan jemaah lainnya yang sempat mendaki Jabal Nur menuju Gua Hira, jemaah haji KLOTER BTH 24 asal Kabupaten Sarolangun, H. Khalid Abdul Watik, mengaku pengalaman berkesan dirasakannya saat berada di kaki Jabal Nur. Karena kondisi cuaca yang mencapai hampir 48 derajat Celsius, harus mengurungkan niatnya mendaki ke puncak untuk melihat Gua Hira. Demi mengutamakan keselamatan, ia dan rombongan memutuskan hanya menikmati suasana di kaki Jabal Nur.
“Yang sangat berkesan di Jabal Nur itu adalah Gua Hira. Jadi sesampainya kami disana, tapi kami tidak menaiki ke atas dikarenakan kondisi cuaca yang sangat ekstrem. Jadi akhirnya kami di bawah,” ungkapnya.
Selain berwisata religi, alih-alih memborong banyak souvenir berupa aksesoris pernak-pernik, ia lebih memilih berbelanja barang-barang yang spesifik berdasarkan titipan seperti boneka unta serta makanan khas Arab Saudi seperti kurma.
“Kami belanja di Mekkah, yang pertama kami (beli boneka) unta. Itu pesan dari keponakan sama cucu kami. Dari beli boneka unta sampai susu unta sampai hati unta pun kami beli. Kalau pernak-pernik aksesoris, kami tidak ada beli. Cuman kami ada makanan-makanan seperti kurma,” ujarnya.

Sementara itu, jemaah KLOTER BTH 24 yang juga berasal dari Kabupaten Sarolangun, Hj. Istiazah Syamsul Bahri, mengungkapkan di antara berbagai destinasi wisata religi yang dikunjungi, Jabal Rahmah menjadi lokasi yang paling berkesan baginya. Di tempat yang diyakini sebagai lokasi pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah berpisah tersebut memberikan makna tersendiri bagi dirinya dan sang suami.
“Jabal Rahmah, karena pertemuannya Adam dan Hawa disana. Seperti kami, suami istri dipertemukan. Rasa cinta yang begitu (mendalam) yang dirasakan seperti Adam dan Hawa,” ungkapnya.
Selain berwisata, ia mengaku membeli beragam oleh-oleh khas Tanah Suci untuk keluarga dan kerabat. Mulai dari perlengkapan ibadah, cenderamata, pernak-pernik, hingga makanan khas Arab Saudi.
“Kalau pernak-pernik seperti mainan kunci, mukena untuk (keluarga/tetangga), tas Mekkah-Madinah, tas-tas untuk anak-anak yang unik-unik, jubah ciri khas Arab. Kalau oleh-oleh makanan yang dibawa, bermacam-macam cokelat yang dipesan oleh anak-anak yang lagi viral. Kurma, kurma ajwa,” ujarnya.
Boneka unta dari ukuran terkecil hingga besar menjadi oleh-oleh yang paling banyak dibawa jemaah karena memiliki keunikan tersendiri. Selain itu, unta merupakan ikon yang sangat lekat dengan Arab Saudi. Hewan ini memiliki sejarah panjang sebagai alat transportasi masyarakat Arab, termasuk pada masa Rasulullah SAW. Karena itu, boneka unta dianggap sebagai cenderamata yang langsung mengingatkan pada perjalanan haji atau umrah.

Jemaah haji KLOTER BTH 24 asal Kabupaten Tebo, Hj. Wasinem Subini Donokromo, mengatakan bahwa ia lebih tertarik membeli oleh-oleh boneka unta yang akan diberikan kepada cucu-cucunya. Meski membawa cukup banyak boneka unta, ia mengaku sengaja tidak berbelanja secara berlebihan karena tujuan utamanya ke Tanah Suci adalah untuk beribadah.
“Beli boneka unta ada 10. Gak ada lain-lain, gak ada, karena memang kesana (Tanah Suci) untuk ibadah,” ujarnya.
Bagi sejumlah jemaah Provinsi Jambi, perjalanan haji tahun ini menjadi pengalaman yang tidak hanya memperkaya nilai ibadah, tetapi juga memperluas wawasan sejarah Islam melalui wisata religi. Sementara oleh-oleh yang mereka bawa pulang menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan, sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan spiritual yang diharap mampu membawa predikat haji yang mabrur. (Iz)
