ISPU Kota Jambi Tembus 104, Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

sekitarjambi.com – Kualitas udara di Kota Jambi memburuk di tengah musim kemarau dan meningkatnya aktivitas Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA). Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi, Senin (10/8/2026) sekira pukul 15.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jambi berada di angka 104 atau masuk kategori tidak sehat.
Kepala DLH Kota Jambi, Mahruzar, mengatakan bahwa parameter yang paling dominan memengaruhi kualitas udara saat ini adalah PM2,5.
“Yang dominan itu PM2,5 dan angka itu pasti naik terus. Itu dilihat dari hasil debu yang diidentifikasi dari pembakaran dan asap yang tidak terlihat dengan kasat mata,” ujar Mahruzar.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena PM2,5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari pembakaran maupun asap. Mahruzar menyebut, masyarakat mulai merasakan dampak dari memburuknya kualitas udara di Kota Jambi.
“Kita sudah bisa merasakan udara di Kota Jambi ini sudah banyak asap,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa apabila kondisi udara terus memburuk, Pemerintah Kota Jambi tidak menutup kemungkinan meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi tersebut. Namun, penetapan status siaga tidak dapat dilakukan secara sepihak. Pemerintah Kota Jambi akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melihat perkembangan kualitas udara serta dampaknya terhadap masyarakat.
“Jika terus mengalami penurunan, bisa saja menetapkan kondisi siaga. Namun untuk penetapan siaga, dilakukan rapat koordinasi terlebih dahulu,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, luas lahan yang terbakar di sejumlah wilayah Jambi hingga saat ini telah mencapai 300,12 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan bahwa angka tersebut masih dapat bertambah karena terdapat sejumlah wilayah yang belum selesai dilakukan pendataan.
“Kenapa masih 300 hektare, karena ada beberapa daerah yang belum bisa kita hitung,” ujar Bachyuni pada Senin (10/8/2026).
Ia menyebut bahwa sejumlah lahan yang terbakar berada di Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pendataan luasan lahan baru dapat dilakukan setelah proses pendinginan selesai dilakukan.
“Nanti kalau sudah dilakukan pendinginan baru bisa. Tapi angkanya itu di atas 300 hektare lebih, karena Muaro Jambi belum masuk. Muaro Jambi diperkirakan di atas 50 hektare,” jelasnya.
Bachyuni mengatakan bahwa munculnya asap di Kota Jambi dapat dipengaruhi oleh arah angin. Saat ini, pergerakan angin dari wilayah tenggara menuju utara. Selain dari wilayah Jambi, pihaknya juga memantau adanya kebakaran lahan di Desa Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
“Faktor arah angin juga bisa, dari tenggara ke utara. Di Medak Sumatera Selatan juga terbakar. Hanya saja kita tidak bisa menjustic, kalau asap itu kita melihat arah anginnya dulu,” jelasnya.
Menurut Bachyuni bahwa pihaknya tidak bisa langsung memastikan sumber kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi tanpa melihat pola pergerakan angin dan kondisi titik kebakaran di sejumlah wilayah. (Iz)
