Jamin Stabilitas Pangan Nasional, BAPANAS Lakukan Penyesuaian HET Beras dan Perkuat Cadangan BULOG

sekitarjambi.com – Badan Pangan Nasional (BAPANAS) bersama Perum Badan Urusan Logistik (BULOG) secara resmi memberlakukan langkah strategis penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium dan beras premium guna menjaga stabilitas rantai pasok pangan pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kebijakan penyesuaian harga ini diambil guna merespons kenaikan biaya produksi petani, fluktuasi harga gabah di tingkat penggilingan, serta dinamika iklim pancaroba yang memengaruhi volume panen lokal.
Langkah penetapan batas atas harga eceran tersebut berjalan beriringan dengan akselerasi penyaluran beras Program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar-pasar tradisional serta jejaring ritel modern di seluruh Indonesia. Pemerintah optimis bahwa intervensi kebijakan pasar ini dapat mencegah lonjakan harga yang membebani daya beli masyarakat sekaligus melindungi tingkat pendapatan para petani lokal.
Kepala Badan Pangan Nasional (BAPANAS), Arief Prasetyo Adi, pada Kamis, 1 Oktober 2026, mengungkap pertimbangan utama di balik keputusan penyesuaian batas harga beras yang diselaraskan dengan struktur biaya produksi terkini.
“Penyesuaian HET beras ini merupakan langkah berimbang yang kita ambil untuk menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen sekaligus menjamin fleksibilitas harga gabah di tingkat petani tetap wajar,” ujar Arief Prasetyo Adi.
Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa pengawasan distribusi beras di lapangan akan diperketat bersama Satuan Tugas (SATGAS) Pangan demi mencegah praktik penimbunan.
“Kami memastikan seluruh jajaran SATGAS Pangan dan BAPANAS turun langsung mengawal agar penjualan beras SPHP maupun komersial di pasaran tidak melebihi batas HET yang ditetapkan,” tegas Arief Prasetyo Adi.
Sementara itu, Direktur Utama Perum BULOG, Bayu Krisnamurthi, pada Jumat, 2 Oktober 2026, menyampaikan bahwa ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada dalam kondisi sangat aman untuk menopang kebutuhan nasional hingga akhir tahun.
“Stok cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh BULOG saat ini berada di atas angka dua juta ton, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kecukupan pasokan pangan,” ujar Bayu Krisnamurthi.
Bayu Krisnamurthi menuturkan bahwa penyerapan beras hasil panen petani dalam negeri akan terus ditingkatkan untuk memperkuat stok nasional secara berkelanjutan.
“BULOG akan terus mengoptimalkan penyerapan beras lokal dari para petani di daerah sentra produksi guna memastikan pasokan CBP tetap kokoh,” ujar Bayu Krisnamurthi.
Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Busteri, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, menilai kebijakan penyesuaian HET beras ini cukup realistis dalam merespons tekanan biaya logistik dan pupuk bagi para petani.
“Penyesuaian harga eceran tertinggi memberikan ruang napas yang memadai bagi para pelaku usaha penggilingan beras skala kecil dan menengah untuk tetap berproduksi secara berkesinambungan,” ujar Busteri.
Busteri pada kesempatan yang sama menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi dan infrastruktur irigasi di daerah.
“Keberhasilan kebijakan HET beras dalam menekan inflasi pangan harus dibarengi dengan kepastian bantuan sarana produksi pertanian agar produktivitas panen petani tidak melorot,” tegas Busteri.
Dengan penguatan stok cadangan beras dan kepatuhan terhadap HET baru di seluruh rantai distribusi, pemerintah menjamin ketersediaan bahan pokok masyarakat tetap stabil dan aman. (K)
