Ketua KLOTER Perempuan Bukti Emansipasi di Pelayanan Haji 2026

sekitarjambi.com – Hampir setiap muslim tentu memiliki impian menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Tidak hanya sebagai jemaah, menjalani peran sebagai petugas haji juga menjadi harapan. Inilah yang dirasakan oleh Zakiah Bustanul Arifin, yang merupakan Kepala MAN Insan Cendekia Jambi. Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, Zakiah mengemban tugas sebagai Ketua Kelompok Terbang (KLOTER) BTH 20 Provinsi Jambi.
Diketahui, Zakiah merupakan seorang tenaga pendidik, yang memulai karir di MAN Muaro Bungo dan kini menjadi Kepala MAN Insan Cendekia Jambi. Zakiah menceritakan bahwa ia lahir dari keluarga pendidik, dimana sang ayah merupakan ASN di Kementerian Agama RI dan membuka sebuah TPA (Taman Pendidikan Al Quran).
“Sebagai tenaga pendidik dari awal. Di awal masa kerja saya itu di MAN 1 Muaro Bungo. Kemudian saya lebih kurang 10 tahun disana. Kemudian mengabdi lagi di MAN Model sekitar 1 tahun, kemudian di MAN Insan Cendekia 10 tahun, kemudian dipindah tugaskan ke Batam lebih kurang 4 tahun, kemudian pulang kembali ke sini (MAN Insan Cendekia) lebih kurang 6 tahun,” ungkapnya.
“Kami dari keluarga pendidik. Bapak saya itu membuka TPA, kemudian bapak saya adalah dari instansi KANWIL Kementerian Agama Provinsi Jambi,” ujarnya.

Lahir sebagai anak sulung dari 4 (empat) orang bersaudara, Zakiah, wanita tangguh yang berasal dari Desa Lubuk Resam Kabupaten Sarolangun ini dengan teguh meyakini bahwa sebagai petugas haji, tentu banyak dukungan yang ia rasakan dari orang-orang terkasih. Bertugas pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, diungkapkan bahwa dirinya telah melalui berbagai proses yang panjang. Melalui takdir Allah SWT, Zakiah menuturkan bahwa banyak pemahaman literasi yang ia peroleh sejak memulai seleksi menjadi Ketua KLOTER.
“Pasti dari takdir dari Allah SWT, jelas itu. Yang kedua, saya yakin banyak yang memfasilitasi. Diantaranya orang-orang terdekat saya, kemudian keluarga saya, kemudian orang-orang yang memang bernaung di wilayah kerja saya, baik itu guru maupun siswa saya, kemudian teman-teman kerja, yakin memfasilitasi dalam bentuk doa sehingga bisa seperti ini,” ujarnya.
Dengan ridho sang suami, Zakiah mengutarakan bahwa menjadi Ketua KLOTER merupakan panggilan kerinduan Baitullah, yang pada tahun 2025 lalu, ia bersama sang suami menjadi jemaah haji reguler. Melalui pengalaman yang ia peroleh selama berhaji, Zakiah yakin naluri bergerak menjadi petugas akan mampu menguatkan tekad membantu menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji bagi jemaah lainnya.
“Alhamdulillah suami saya mengizinkan. Dan Alhamdulillah saya ikut administrasi, kemudian CAT pertama, CAT kedua, wawancara, dan Alhamdulillah ada SK-nya. Naluriah kita sebagai orang Islam. Jadi ada rindu pengen kesana (Tanah Suci). Artinya mungkin salah satu jalannya melalui Ketua KLOTER,” ungkapnya penuh haru.
Meski perempuan, Zakiah yakin bahwa menjadi Ketua KLOTER merupakan tantangan yang harus ditaklukkan dengan baik. Dengan tujuan hidup bermanfaat bagi orang lain, Zakiah optimis bahwa potensi perempuan tanpa menyalahi peraturan tidak menghalangi dirinya untuk berkiprah.
“Ada hal-hal yang kadang-kadang pasti menjadi tantangan. Kalau ditanya berkenaan dengan perempuan, di Indonesia itu sudah ada kesetaraan gender. Artinya dalam konteks kegiatan-kegiatan tertentu, perempuan bisa berkiprah. Nah, salah satunya di Ketua KLOTER. Ketua KLOTER itu tidak ada syaratnya harus laki-laki, artinya ada potensi disitu,” ujarnya penuh semangat.
Melalui latar belakang tenaga pendidik dan pengalaman berhajinya, Zakiah meyakini hal tersebut menjadi salah satu bekal kekuatan sebagai Ketua KLOTER. Hal terpenting yang ia rasakan saat ini adalah kenyamanan atas keikhlasan dari pihak keluarga, yang turut mengantarkan dirinya menjadi Ketua KLOTER.
“Mereka (keluarga) ikhlas untuk saya berangkat. Kesetaraan gender. Ketika sudah diamanahkan, harus semampu kita melaksanakan amanah tersebut,” ujarnya.
Untuk bertugas menjadi Ketua KLOTER, Zakiah mengungkapkan bahwa dirinya berstrategi dengan konteks pendekatan kolaboratif dan humanis. Dimana dalam memecahkan suatu permasalahan, dirinya bersama petugas lainnya akan mengoptimalkan pada solusi terbaik.
“Menurut saya sederhana saja. Pertama dengan konteks pendekatan kolaboratif, yang kedua pendekatan humanis. Dalam rangka untuk memutuskan sesuatu, mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.
“Prinsipnya itu bisa memberikan pelayanan prima, yang tujuan akhirnya adalah seluruh jemaah, baik yang muda sampai yang tua, mendapatkan predikat haji mabrur dan mabrurah, Insya Allah. Mohon doa,” lanjutnya.
Sebagai salah satu pejuang emansipasi pada pelayanan haji tahun 2026, Zakiah berharap kepada seluruh perempuan untuk berani berbuat baik. Dalam hal ini Zakiah memotivasi para perempuan untuk keluar dari zona nyaman dan mampu hidup bermanfaat bagi orang lain.
“Perempuan dimana pun berada, bahwa ketika kita mau berbuat, yang penting niat pertama. Ketika kita punya niat, kita bisa action. Mulailah dari diri sendiri dan jangan kita merasa nyaman selalu. Ketika mampu keluar dari zona nyaman, saya yakin kita bisa memberikan yang terbaik. Nah jadi di waktu yang ada ini, manfaatkan! Kita manfaatkan supaya kita bernilai manfaat lebih,” ujar Zakiah yang merupakan ibu dari 3 (tiga) orang anak tersebut.
Diketahui, melalui tagline pelaksanaan ibadah haji 2026 yakni Haji Ramah LANSIA, Disabilitas, dan Perempuan, Kementerian Haji dan Umrah RI membuka peluang serta perempuan dalam bertugas melayani jemaah. Dalam hal ini adanya peran perempuan salah satunya sebagai Ketua KLOTER menunjukkan kesetaraan gender dan pendekatan humanis kepada jemaah haji Indonesia.
“Ini untuk pertama kalinya KLOTER Jambi, Ketua KLOTER-nya perempuan. Karena memang tagline haji itu adalah Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan. Maka perempuan jadi Ketua KLOTER untuk BTH 20,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jambi, Dr. H. Wahyudi Abdul Wahab, M.Fil.I., dalam laporan pemberangkatan jemaah KLOTER BTH 20 pada Rabu, 13 Mei 2026 malam. (Tim)
