Berdoa di Tanah Suci, Para Jemaah Haji Provinsi Jambi Rasakan Kelancaran Beribadah

sekitarjambi.com – Menunaikan ibadah haji di Tanah Suci menjadi impian setiap umat Islam di dunia. Kesempatan beribadah di Masjidil Haram, melaksanakan wukuf di Arafah, hingga berdoa di tempat-tempat mustajab dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh jemaah haji, seperti yang dimanfaatkan oleh sejumlah jemaah KLOTER BTH 22 Provinsi Jambi.

Seorang jemaah KLOTER BTH 22 Provinsi Jambi asal Kabupaten Tebo, Hj. Nadya Grilseda, mengungkapkan kesan-kesannya saat memanjatkan doa di tempat mustajab pada saat puncak ibadah haji di Mina. Dengan perjuangan luar biasa dalam perjalanan melontar jumrah, ia seraya memanjatkan doa untuk kesehatan orangtuanya.
“Hal yang paling berkesan selama ibadah haji tentunya pada saat Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMUZNA). Yang sangat berkesan itu pada saat (doa) di Mina. Doanya pasti buat kesehatan orangtua,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu doa yang langsung ia rasakan terkabul adalah kelancaran selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Ia mengaku sejak keberangkatan ke Tanah Suci selalu berdoa untuk diberikan kelancaran dan kemudahan dalam beribadah.
“Kalau langsung terkabul, apa ya. Tentu kelancaran kemudahan selama melaksanakan ibadah haji. Dari mulai berangkat sampai pelaksanaan ibadah,” tuturnya.

Selanjutnya, seorang jemaah lainnya yakni Hj. Deasy Ariyantie yang juga merupakan jemaah KLOTER BTH 22 Provinsi Jambi asal Kota Jambi, menuturkan bahwa selama berada di Tanah Suci, setiap kesempatan berdoa di tempat-tempat mustajab dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memohon kebaikan bagi keluarga.
“Semua doa kami usahakan untuk bisa kami panjatkan di tempat-tempat yang mustajab. Kalau untuk doa khusus sendiri, untuk saya pribadi, suami, pasti doa untuk orangtua, untuk kami sendiri, dan untuk anak-anak,” ujarnya.
Hj. Deasy Ariyantie juga mengaku memiliki doa yang sangat personal selama berada di Tanah Suci, yakni memohon kesehatan dan kemudahan dalam hal urusan bersuci atau beristinja agar dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa hambatan.
“Jadi, memang dari dalam hati selalu doanya semoga tidak ada halangan untuk bisa ambil air wudhu, jadi bisa shalat tanpa ada halangan yang berarti terkait dengan urusan ke belakang (toilet). Dan memang mungkin itu salah satu juga bukti kalau doa kita terkabul. Jadi, tidak ada halangan yang berarti untuk urusan-urusan ke belakang (toilet) kalau buat saya pribadi,” ungkapnya.

Sementara itu, jemaah KLOTER BTH 22 Provinsi Jambi asal Kabupaten Kerinci, H. Nelpi Edisa, mengatakan bahwa dalam melaksanakan ibadah haji tahun ini ia berangkat dengan sang Ayah, berkesempatan mendampingi ayahnya yang sudah LANSIA dan menggunakan kursi roda. Ia juga merupakan jemaah limpahan porsi dari sang Ibu. Sehingga pada saat berada di tempat-tempat mustajab, ia berdoa untuk sang ibu yang sudah meninggal dunia.
“Saya mendoakan beliau (Ibu), karena saya menggantikan beliau, Insya Allah. Semoga Allah menerima amal ibadah beliau,” tuturnya.
Mendampingi orangtua (Ayah) yang menjalankan ibadah haji dengan kursi roda bukanlah hal mudah. Karena itu, ia selalu berdoa memohon kelancaran agar dapat menunaikan seluruh rukun, wajib, dan sunah haji tanpa hambatan. Menurutnya, pertolongan Allah SWT begitu nyata dan dirasakan terkabul selama mendampingi orangtuanya beribadah.
“Kebetulan saya mendoakan supaya saya diberikan kelancaran oleh Allah SWT dalam melaksanakan ibadah haji. Sehingga saya dipermudah oleh Allah dalam melaksanakan rukun haji, wajib haji, maupun sunah haji dengan membawa orangtua saya dengan memakai kursi roda. Kami bisa melaksanakan semuanya, baik itu tawaf, melempar jumrah, tidak ada kendala. Kami dipermudah dalam melaksanakan ibadah haji.” ungkapnya.
Kini setelah kembali ke Tanah Air, para jemaah berharap doa-doa yang telah dipanjatkan di Tanah Suci dikabulkan Allah SWT serta membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bertekad menjaga nilai-nilai ibadah haji dengan terus meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta menjadi teladan di tengah keluarga dan masyarakat sebagai wujud dari haji yang mabrur. (Iz)
