JAMBINEWS

Perkuat Budaya Keselamatan Kerja, PetroChina Gelar Strengthening Safety Culture Through Leadership, Human Factors, Ergonomics, & AI Workshop

sekitarjambi.com – SKK Migas – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PetroChina International Jabung Ltd. (PCJL) secara konsisten terus berupaya memperkuat budaya keselamatan kerja dalam mendukung keberlangsungan operasi hulu minyak dan gas (Migas). PCJL juga terus melakukan perbaikan berkelanjutan dengan memperkuat penerapan HSE Management System yang terintegrasi dengan mengacu pada ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, ISO 45001:2018, SMK3 PP No. 50 Tahun 2012. Sistem terintegrasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan pengelolaan mutu, lingkungan, keselamatan, dan kesehatan kerja berjalan secara konsisten untuk mendukung operasional yang aman, andal, dan berkelanjutan.

Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui kegiatan “Strengthening Safety Culture Through Leadership, Human Factors, Ergonomics, & AI Workshop” yang digelar di BW Luxury Hotel Jambi pada tanggal 19 – 20 September 2026. Kegiatan yang juga berlangsung secara hybrid via Zoom Meeting tersebut menjadi bagian dari komitmen PetroChina dalam meningkatkan kesadaran dan kompetensi karyawan, sub-kontraktor dan kontraktor terhadap aspek keselamatan kerja, sekaligus mendorong penerapan teknologi guna mendukung operasional yang lebih aman, efektif dan efisien.

Workshop ini diikuti oleh jajaran manajemen, superintendent, supervisor, karyawan, dan para pekerja kontraktor serta stakeholder (BPBD Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur) di wilayah kerja PetroChina. Workshop ini membahas sejumlah aspek penting dalam membangun budaya keselamatan, melalui peran kepemimpinan, faktor manusia, ergonomi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dibuka secara resmi oleh Field Manager PetroChina International Jabung Ltd., yang dalam hal ini diwakili oleh QHSE Senior Specialist, Iswandi Eka Putra. Pada moment tersebut, ia menegaskan bahwa penerapan budaya keselamatan harus dimulai dari kepemimpinan dan ditunjukkan melalui keteladanan dalam setiap keputusan maupun aktivitas kerja.

“Menjadi Safety Leader, berarti berani mengingatkan terkait potensi bahaya. Kepemimpinan adalah teladan, bukan perintah,” tegasnya.

Ia juga kembali mengingatkan bahwa di balik setiap pekerja yang berangkat menjalankan tugas, ada keluarga yang menanti kepulangan mereka dengan selamat, terlebih pekerjaan di lapangan yang memiliki resiko keselamatan yang tinggi. Sehingga perlu ditekankan pada hati untuk terus peduli dan menerapkan budaya keselamatan kerja.

“Oleh karena itu, mari kita tanamkan di dalam hati kita, safety itu bukan sekadar buku panduan setebal ratusan halaman, safety bukan sekadar angka statistik zero incident di atas kertas. Safety adalah tentang cinta, tentang kepedulian, tentang memastikan rekan di sebelah kita bisa pulang menemui keluarganya dengan selamat. Untuk itu kita harus membangun budaya keselamatan itu dengan baik, dari hati kita,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, selaku Ketua Panitia kegiatan workshop, Field QHSE Superintendent PetroChina International Jabung Ltd., Hardian Citra Dini, menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini diharap dapat memperluas wawasan dan perspektif dalam membangun keselamatan kerja yang lebih adaptif, serta menjadi bagian dari perilaku dan budaya keselamatan kerja yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh pekerja.

“Melalui workshop ini kami berharap kita dapat memperluas wawasan dan melihat safety culture dari perspektif yang lebih menyeluruh. Tidak hanya bagaimana kita mencegah terjadinya insiden, tetapi juga bagaimana kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman. Lebih peduli terhadap manusia dan lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa workshop yang digelar menjadi kesempatan bagi para peserta untuk berbagi pengalaman serta belajar satu sama lain. Selain itu melalui workshop ini para peserta diharap dapat menumbuhkan insight dan semangat baru untuk diterapkan di tempat kerja.

Sebelum memasuki kegiatan inti workshop yang diisi dengan sesi pemaparan materi dan sesi tanya jawab serta diskusi, perwakilan manajemen PetroChina yang dalam hal ini diwakili oleh HSE Supervisor PetroChina International Jabung Ltd., Putra Najuantah, menyosialisasikan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) ISO 37001 yang diterapkan di lingkungan operasional PetroChina. SMAP menjadi bagian penting dalam memperkuat budaya integritas PetroChina, karena merupakan bagian dari penguatan budaya kerja yang berintegritas, termasuk dalam pengambilan keputusan yang bebas dari risiko penyuapan karena turut mendukung aspek keselamatan operasional.

“Untuk mendukung visi dan misi perusahaan terutama yang berkaitan dengan anti penyuapan, kita (perusahaan) telah menetapkan kebijakan, yang mana kebijakan ini di semua divisi, di semua bagian, menerapkan sistem nilai risiko. Jadi Bapak/Ibu bila menemukan tindakan pencurian, pemerasan, penyuapan, gratifikasi, dan semuanya yang ada hubungannya, bisa melapor,” jelasnya.

Sebagai pemateri pertama, Senior HSEQ Executive & Expert Pratictioner, Mirza Kurniawan, membagi tiga sesi pemaparan. Pemaparan pertama dengan tema “Re-Defining Safety Leadership in Oil & Gas Industry”. Dilanjutkan dengan sesi kedua dengan tema “Building a Just & Proactive Safety Culture” dan sesi ketiga dengan tema “Workshop: Interactive Leadership Case Studies & Roleplay”.

Dalam workshop tersebut, Mirza Kurniawan menekankan pentingnya kehadiran dan konsistensi pemimpin dalam membangun budaya keselamatan. Menurutnya, kepemimpinan yang terlihat bukan sekadar hadir secara fisik di lapangan, tetapi juga diwujudkan melalui komitmen yang konsisten untuk mendorong perubahan dalam organisasi.

“Leader harus visible di lapangan, visible bukan berati hanya terlihat secara fisik. Yang dimaksud dengan visible leadership adalah manajemen komitmen. Jadi setiap leader dan organisasi komitmennya harus di atas rata-rata sedikit, karena kalau tidak begitu, kita hanya akan stag dengan kondisi yang seperti itu saja. Oleh karena itu, manajemen komitmen kalau Bapak/Ibu ingin bergeser budaya safetynya dari patologi ke reaktif, reaktif ke kalkulatif, kalkulatif ke pro aktif, dan proaktif ke generatif, berarti komitmennya harus di atas rata-rata sedikit. Karena sedikit tapi connectional lebih bertambah, akan lebih baik daripada komitmen yang melonjak tapi besok paginya berbeda,” jelas Mirza Kurniawan saat memaparkan materi.

Di sela rangkaian workshop, suasana semakin interaktif dengan kuis oleh narasumber. Selain pemaparan materi, sesi workshop turut diisi dengan pembahasan sejumlah isu yang didiskusikan bersama peserta. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengidentifikasi isu-isu terkini, membahas alternatif pemecahan masalah, serta merumuskan langkah-langkah preventif yang dapat diterapkan dalam menghadapi potensi risiko di lingkungan kerja.

Sebelum berlanjut kepada narasumber kedua, dalam reviewnya, salah seorang peserta yakni Arief Wibowo menyimpulkan paparan narasumber Mirza Kurniawan. Ia menuturkan bahwa untuk menjadi safety leader yang baik, maka harus memiliki kemampuan pengambilan keputusan dengan baik.

“Jadi kami (peserta) dibuat untuk berpikir bahwa kami adalah calon-calon Safety Leader. Banyak sekali poin-poin yang ditunjukkan bahwa inilah proses yang harus kami terima. Intinya beliau memberi simulasi bagaimana caranya kita melihat sebuah kondisi dimana ada laporan, ada hasil pemantauan ataupun informasi. Bagaimana caranya seseorang itu bisa melihat dengan jeli dan detail, bagaimana caranya keputusan diambil dengan baik. Jadi kemampuan dia mengambil keputusan dengan baik, itu yang membuat dia menjadi safety leader yang baik,” ujarnya.

Menjadi narasumber kedua, Occupational Health, Safety, & Environment Specialist, Hana Fajrianti, S.T., M.K.K.K., melalui materi sesi pertama membahas “Human Factors & Fatigue Management in Operations”. Ia mengulas konsep human factor dalam keselamatan kerja. Ia menjelaskan bahwa aspek tersebut mencakup hubungan antara pekerja dengan tugas, peralatan, lingkungan kerja, hingga sistem organisasi, termasuk komunikasi, prosedur, dan kerja sama tim.

“Human factor itu adalah bagaimana kita memahami interaksi antara manusia dengan sistem-sistem yang ada di sekitarnya. Personnya, tasknya, equipmentnya, environmentnya, lingkungan kerjanya, kemudian juga paparan-paparan yang ia terima, dan juga bagaimana organisasinya, pengaturan job desk, pengaturan struktural jabatan misalkan teamwork, komunikasi, prosedur itu seperti apa. Jadi, itulah human factor,” jelas Hana Fajrianti.

Pembahasan kemudian berlanjut pada sesi kedua dengan tema “Applied Ergonomics for Injury Reduction & Productivity” dan sesi ketiga dengan tema “Leveraging AI & Digital Tools for Modern OHS Risk Management”. Pemanfaatan teknologi digital dan AI dibahas sebagai bagian dari perkembangan pendekatan dalam mengidentifikasi serta mengelola risiko Occupational Health and Safety (OHS) di lingkungan kerja.

Dalam sesi ketiga tersebut, Hana Fajrianti menekankan bahwa kehadiran AI tidak menggantikan peran manusia dalam mengambil keputusan. Menurutnya, pengguna tetap perlu memahami konteks, kebutuhan, serta kondisi yang dihadapi sebelum menentukan keputusan.

“Teman-teman meskipun kita punya teknologi AI yang bisa otomatis, tapi decision tetap di kita. Kita tetap harus mengetahui nuansa dan kebutuhannya,” ujarnya.

Rangkaian workshop ditutup dengan sesi diskusi. Pada sesi ini, para peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga terlibat aktif dalam membahas berbagai isu dan tantangan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Pada penghujung kegiatan, Field QHSE Superintendent PetroChina International Jabung Ltd., Hardian Citra Dini, menekankan kepada para peserta, bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab seluruh pekerja, sekaligus pentingnya peran pemimpin dalam mendengarkan dan memastikan setiap keputusan tetap didukung oleh kondisi nyata di lapangan.

“Saya garis bawahi ya, Everybody is Safety Leader. Harapan saya coba kita tanamkan, safety itu adalah tanggung jawab dari semua orang. Harapan saya di PetroChina semuanya adalah leader mengenai safety. Saat workshop kita melakukan simulasi dalam pertimbangan-pertimbangan, tahu atau tidak tahu ketika kita ragu-ragu, harus diungkapkan, disitulah peranan seorang Safety Leader harus mendengarkan,” terangnya.

“Kawan-kawan kadang kala ada inspeksi, men-summary atau melakukan investigasi, kadang kala dengan menggunakan teknologi AI. Satu hal yang pasti, ketika kita melakukan sesuatu kalau sifatnya itu investigasi, pembuktian itu harus dilakukan,” imbuhnya.

Melalui workshop ini, para peserta diharap memiliki pemahaman mengenai budaya keselamatan yang semakin kuat dan diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari. Budaya keselamatan yang kuat diharap tidak hanya lahir dari aturan dan prosedur, tetapi juga dari kesadaran setiap individu untuk mengenali risiko, mengambil keputusan yang tepat, dan saling mengingatkan demi terciptanya lingkungan kerja yang aman. Dengan mengintegrasikan kegiatan ini, penguatan budaya keselamatan diharap dapat terus berkembang mengikuti tantangan operasional dan perkembangan teknologi, sekaligus mendukung terwujudnya operasi migas yang aman, andal, dan berkelanjutan. (Tim)