Terungkap! Dua Bakteri Berbahaya Sebabkan Keracunan MBG di Kabupaten Muaro Jambi

sekitarjambi.com – Kasus dugaan keracunan massal dalam program MBG di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Muaro Jambi beberapa waktu lalu akhirnya terjawab. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan adanya dua bakteri patogen berbahaya yang mencemari makanan yang dikonsumsi siswa/i.
Ketua SATGAS MBG Kabupaten Muaro Jambi, Budhi Hartono, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium dan diagnosis etiologi, penyebab utama insiden tersebut adalah bakteri Staphylococcus aureus, dengan temuan tambahan bakteri Escherichia coli (E. coli).
“Berdasarkan hasil laboratorium dan diagnosis etiologi, Staphylococcus aureus ditemukan pada sejumlah sampel makanan,” ujar Budhi dalam keterangan resmi pada Kamis (19/2/2026).
Hasil uji menunjukkan Staphylococcus aureus terdeteksi pada tahu dan toge (bank sampel), serta ayam suir dan kol dari sisa makanan siswa/i. Sementara itu, E. coli ditemukan pada sampel bihun yang dikonsumsi siswa/i kelas 1-3. Bahkan, kombinasi kedua bakteri tersebut juga teridentifikasi dalam sampel ayam suir dari bank sampel.
Pemeriksaan klinis semakin menguatkan temuan tersebut. Sampel feses seorang anak berusia tujuh tahun dinyatakan positif E. coli. Fakta ini menegaskan bahwa gejala mual, muntah, dan diare yang dialami para siswa/i bukan gangguan ringan, melainkan akibat paparan bakteri dari sumber yang sama.
Tidak hanya makanan, hasil uji kualitas air sumur bor yang digunakan dalam proses pengolahan makanan juga menunjukkan pelanggaran standar. Total coliform tercatat 33 CFU/100 ml melewati ambang batas aman. Sementara kadar mangan mencapai 0,74 mg/l dan dinyatakan tidak memenuhi baku mutu.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya persoalan serius dalam sistem sanitasi dan pengolahan makanan. Secara umum, Staphylococcus aureus kerap berasal dari tangan atau peralatan yang tidak higienis, sedangkan E. coli berkaitan erat dengan sanitasi dan kualitas air yang buruk.
Tim pemeriksa menyimpulkan pola kejadian mengarah pada common source outbreak yakni wabah dengan satu sumber paparan yang sama. Lonjakan kasus secara tajam dalam waktu singkat menjadi indikasi kuat bahwa kontaminasi terjadi pada tahap pengolahan atau distribusi makanan sebelum dikonsumsi siswa/i.
Dalam rapat evaluasi, Budhi Hartono menyampaikan bahwa sejumlah rekomendasi kepada yayasan penyelenggara, Aziz Rukiyah Amanah. Rekomendasi tersebut meliputi peningkatan pengawasan dapur, penerapan standar keamanan pangan yang lebih ketat, perbaikan sistem air bersih dan sanitasi, serta penguatan pengawasan harian oleh petugas SPPG.
“Petugas lapangan yang setiap hari berada di dapur harus memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar. Pengawasan tidak boleh longgar,” tegasnya.
Terkait kemungkinan penghentian atau penggantian yayasan pengelola, Budhi menyatakan kewenangan tersebut berada pada BGN Pusat. SATGAS hanya menyampaikan hasil pemeriksaan dan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan.(Iz)
