Jemaah Haji KLOTER BTH 21 Provinsi Jambi Kenakan Pakaian Kebangsaan Saat Kepulangan ke Kampung Halaman

sekitarjambi.com – Ada pemandangan berbeda dan menarik saat pemulangan jemaah haji KLOTER BTH 21 dari Debarkasi Haji Antara Provinsi Jambi menuju daerahnya masing-masing pada Jumat (26/6/2026) pukul 03.30 WIB. Selain membawa kebahagiaan setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, para jemaah juga menampilkan tradisi yang menjadi identitas suku mereka dengan mengenakan pakaian kebangsaan.
Diinformasikan bahwa jemaah haji KLOTER BTH 21 tiba di Asrama Debarkasi Haji Antara Provinsi Jambi pada Kamis (25/6/2026) dan beristirahat sejenak untuk mandi serta mengganti pakaian di asrama, sebelum kembali ke daerahnya masing-masing. Para jemaah KLOTER BTH 21 berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Hampir keseluruhan jemaah mengenakan pakaian kebangsaannya masing-masing. Pakaian tersebut menjadi simbol kebanggaan jemaah keturunan suku Bugis dan Banjar yang telah lama berakar di wilayah pesisir Provinsi Jambi, khususnya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Seorang jemaah KLOTER BTH 21 Provinsi Jambi, Hj. Akhtati Sagir M. Tinggal, yang merupakan jemaah suku Banjar mengungkapkan pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini ia merupakan jemaah limpahan porsi menggantikan abang kandungnya. Menurutnya ia sangat bangga dapat mengenakan pakaian kebangsaan suku Banjar yang khas dikenakan oleh jemaah perempuan saat pulang dari beribadah haji yakni Bolang Haji, penutup kepala berbentuk oval dan menyerupai sanggul ditambah aksesoris dan sulaman berwarna emas. Selain itu ia juga memakai mispa yang merupakan baju kurung atau gamis berwarna, dengan desain dan pernak pernik berwarna emas.
Ia mengungkapkan alasan mengenakan pakaian kebangsaan, yakni karena ketika sampai di kampung halaman, ia akan disambut dengan pembacaan Maulid Nabi sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada jemaah haji.
“Kebiasaannya kalau pulang dari berhaji pakai pakaian gini. Terus nanti pulang disambut dengan Maulid Nabi. Bangga banget dan bahagia banget. Ada sedihnya juga ingat Almarhum (kakak kandung) yang meninggal dunia,” ungkapnya.
Hj. Akhtati Sagir M. Tinggal juga mengungkapkan bahwa sebelumnya mempersiapkan pakaian kebangsaan sejak 6 (enam) bulan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci dan mengaku merasa sangat nyaman dan bangga saat mengenakannya. Namun baginya yang terpenting bukanlah seberapa mewah pakaian yang dikenakan saat kepulangan, melainkan tekad untuk membawa perubahan menjadi pribadi yang lebih baik dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT setelah kembali ke kampung halaman.
“Nyaman bangetlah. Karena itu yang istilahnya kan yang diidam-idamkan setiap muslim, muslimah (suku Banjar) untuk berangkat haji. Harapan saya lebih memperbaiki diri, lebih istiqomah, lebih bertakwa kepada Allah Yang Maha Kuasa, lebih banyak bersyukur,” ujarnya.

Selanjutnya, jemaah KLOTER BTH 21 Provinsi Jambi yang merupakan jemaah suku Bugis, Hj. Lailatun Najmiah menegaskan bahwa kebanggaan yang sesungguhnya bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan karena Allah SWT telah memanggilnya untuk menunaikan ibadah haji setelah penantian selama 12 tahun. Bahkan pakaian tersebut merupakan pemberian keluarga, sebagai bentuk kasih sayang dan ungkapan syukur atas kepulangannya dari Tanah Suci.
“Sebenarnya bukan bajunya yang saya banggakan. Saya bisa berangkat haji, walaupun tidak punya uang, tidak punya apa-apa, tapi kami bisa berangkat haji. Ini baju bukan baju dari saya, ini dari keluarga menyiapkan. Semua dari keluarga, saya tidak punya apa-apa. Makanya ini melambangkan keluarga biar orang tahu walaupun kita tidak punya apa-apa, tapi kita mampu berangkat haji. Menunaikan ibadah panggilan dari Allah SWT,” ujarnya.
Bagi dirinya beribadah haji merupakan cita-cita tertinggi setiap muslim. Di Tanah Suci, ia tidak hanya memanjatkan doa agar ibadahnya diterima, tetapi juga berharap seluruh keluarga dan keturunannya mendapat panggilan yang sama untuk menunaikan rukun Islam kelima.
“Memang setiap orang muslim harapan yang paling utama, yang paling tinggi itu ibadah haji. Semua orang, tidak terkecuali saya. Ibadah haji itu memang yang diidam-idamkan. Semoga ibadah kami diterima Allah. Dan Allah mengampuni dosa-dosa orang tua kami, kami, dan seluruh keluarga kami. Dan juga pada Allah semoga anak dan keturunan kami nanti akan dipanggil Allah juga kesana (Tanah Suci),” tuturnya.
Keunikan lainnya terlihat dari keberagaman pakaian yang dikenakan para jemaah. Tidak hanya suku Bugis dan Banjar, sejumlah jemaah dari latar belakang suku lainnya juga turut memeriahkan mengenakan pakaian terbaiknya pada kepulangan ke daerah masing-masing.

Seperti seorang jemaah laki-laki KLOTER BTH 21 Provinsi Jambi, H. Husein Tanjung Achmad, yang merupakan jemaah asli suku Minang namun telah menetap di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Ia mengenakan pakaian bernuansa Timur Tengah berupa gamis putih, sorban, dan jubah ala Arab yang identik dengan suasana Tanah Suci.
Menurutnya, pakaian yang dikenakan saat kepulangan bukan sekadar pakaian seremonial. Lebih dari itu, pakaian yang ia kenakan menjadi ungkapan rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji sekaligus bentuk penghormatan kepada Tanah Suci yang telah memberikannya banyak hikmah dan pelajaran hidup. Ia berharap pakaian yang ia kenakan dapat membangkitkan semangat masyarakat yang telah mampu agar segera ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji.
“Mengangkat apa, kebesaran haramain itu kita tunjukkan kepada masyarakat, supaya masyarakat tergugah untuk segera berhaji. Jadi melihat penampilan fisik saja, secara fisik saja, mereka pasti tertarik, ya!,” ujarnya.
H. Husein Tanjung Achmad mengaku bangga mengenakan pakaian terbaiknya sebagai tradisi kepulangan haji. Namun menurutnya yang lebih penting adalah perubahan akhlak dan perilaku menjadi lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Saya sangat bangga mengenakan busana ini, karena masyarakat kita kalau orang pulang haji itu masih pakaian biasa, itu seolah-olah dia menyambut bukan haji. Jadi, kita memang mentradisikan ini. Dan Alhamdulillah masyarakat kita melihat dari salah satu dari segi lain, kita diharapkan setelah haji ini kan ada perubahan, walaupun perubahan itu secara fisik. Jadi dari fisiklah kita bisa mengubah akhlak, tingkah laku, perangai, dan lain-lainnya, ibadah kita juga semakin meningkat. Sebab kalau kita sudah melekat titel haji, mau tidak mau ada motivasi intern dari dalam yang mendorong kita untuk selalu menampilkan terbaik seperti bagaimana haji itu sebenarnya,” ungkapnya.
Keberagaman tradisi berpakaian yang ditampilkan jemaah KLOTER BTH 21 saat kembali ke daerah asal menjadi gambaran harmonisnya masyarakat Provinsi Jambi yang terdiri dari berbagai suku. Meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, seluruh jemaah tetap bersatu dalam semangat ibadah dan kebersamaan yang mereka rasakan selama berada di Tanah Suci. Momentum kepulangan ini pun tidak hanya menjadi akhir dari perjalanan ibadah haji, tetapi juga menjadi ajang memperlihatkan kekayaan budaya Nusantara yang tetap hidup dan terjaga di tengah masyarakat Jambi. (Iz)
