“Kebebasan Berekspresi di Era Digital” Digaungkan Pada Webinar Literasi Digital Kota Jambi

sekitarjambi.com – Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kota Jambi bergulir pada Senin, 28 Juni 2021. Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB ini, bertajuk “ Kebebasan Berekspresi di Era Digital”.

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini, bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif untuk mengidentifikasi hoaks, serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.

Pada webinar yang dihadiri oleh 125 peserta daring ini, hadir dan memberikan materi secara virtual, para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Cecep Nurul Alam, S.T., M.T. selaku praktisi di Bidang Ahli ICT Kopertais II Jabar, Kepala Divisi e-Learning, (Cand) Dr. Astri Dwi Andriani, S.I.Kom. M.I.Kom dan Dekan Fakultas Komunikasi dan Penggiat Media Digital, Ir. Nurrachmat Herlambang, MMA selaku Kepala Dinas KOMINFO Provinsi Jambi, dan Muhammad Junaidi, S.Ag., M.Si. selaku Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Pegiat media sosial yang juga sebagai Owner @ratu.glowing, owner PT. Sulawesi Auliah Samudra, @kikibakry_by bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan memberikan pengalamannya.

Pada sesi pertama, Cecep Nurul Alam menjelaskan setiap orang memiliki hak untuk berpendapat secara lisan ataupun tulisan, baik melalui media cetak maupun elektronik. Namun dalam mengeluarkan pendapat, harus memperhatikan beberapa hal penting.

“Yang perlu diperhatikan adalah nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan Negara, serta tunduk pada hukum yang berlaku,” ujarnya.

Sebagai pembicara kedua, Astri Dwi Andriani mengatakan, jejak digital adalah rekaman atau bukti yang ditinggalkan setelah beraktivitas di internet, yang berpotensi untuk dicari, dilihat, disalin, dicuri, dipublikasi dan diikuti orang lain.

“Jejak digital itu akan abadi, jadi kita harus saring-saring dulu sebelum sharing,” tegasnya.

Tampil sebagai pembicara ketiga, Nurrachmat Herlambang menjelaskan, budaya digital merupakan prasyarat dalam melakukan transformasi digital.

“Orang yang dapat bertahan bukan yang paling kuat atau pintar, tetapi yang bisa beradaptasi, ” ujarnya.

Sebagai pembicara keempat, Muhammad Junaidi menegaskan, pada akhirnya setiap yang menjadi prinsip etis yang dilakukan di dunia nyata, sebelum bertransformasi ke dalam dunia revolusi, ternyata masih harus dimasukkan untuk menjadi adab kesopanan berkomunikasi di ruang digital.

“Ini guna menafikan prinsip-prinsip moral di dunia digital, akan menggugurkan martabat manusia itu sendiri, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social,” ujarnya.

@kikibakry_by sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini menuturkan, kebebasan berekspresi dalam media sosial berarti bebas berekspresi untuk memposting hal-hal yang positif.

“Jika postingan positif dilakukan, maka bisa diikuti atau ditiru oleh siapa saja yang menonton, tapi tetap menjaga potensi-potensi yang tidak baik untuk kita posting,” ujarnya.

Pada webinar kali ini, para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan. Terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber.

Waisul kurnia, salah satu peserta menanyakan “Apakah saat ini menurut Bapak (red: narasumber) penerapan UU ITE sudah sesuai pola kehidupan masyarakat indonesia?”. Pertanyaan selanjutnya oleh peserta bernama Syahrul Hanafi, menanyakan “Apa faktor penyebab rendahnya literasi masyarakat terutama yang namanya kaum-kaum terdidik justru malah sering share hoax di medsos?”. Berikutnya pertanyaan hadir dari Juni, yang menanyakan “Bagaimana meningkatkan kembali kepercayaan publik terhadap akurasi data yang saat ini berlimpah?, Apa peran Pemerintah maupun stakeholder dalam mendukung dan mengarahkan terhadap literasi digital yang digerakkan oleh banyak komunitas online saat ini?”. Selanjutnya, pertanyaan muncul dari Ariyandi Batu Bara, yang menanyakan “Bagaimanakah desain sosiologis ke depan yang dapat diupayakan guna mempersiapkan generasi tangguh yang bijak dalam menggunakan instrumen komunikasi digital?”.

Diketahui, webinar kali ini merupakan kegiatan keempat, dari 37 kali webinar yang akan diselenggarakan di Kota Jambi. (Tim)

Bagikan
error: