Jabatan Rektor dan Warek III Dituntut Lengser, PEMIRA Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Jambi Ditunda

sekitarjambi.com – Kota Jambi, Kamis (5/8/21) terjadi perkelahian antar mahasiswa, yang dipicu atas Pemilihan Raya (PEMIRA) Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Jambi periode 2021 – 2022 dengan cara musyawarah. Aksi perkelahian itu pun terekam dalam video berdurasi 22 detik.

Dalam video tersebut, tampak sejumlah mahasiswa berkelahi, yang sebagian besar massa mengenakan almamater berwarna maroon. Dalam perseteruan tersebut, sejumlah mahasiswa tidak setuju dengan adanya penyelenggaraan PEMIRA, bahkan massa meminta Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Jambi, Siswoyo untuk mundur dari jabatannya.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Jambi, Muhammad Awal mengatakan, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Jambi sudah tidak terhitung dalam melanggar peraturan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, begitu pula dengan melanggar kesepakatan dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

“Kejadian ini menunjukkan imbas dari pengangkangan terhadap statuta Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kami sudah mengirimkan surat resmi kepada DPP IMM yang akan diteruskan kepada PP Muhammadiyah dan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, dengan menceritakan kronologis kejadian dengan bukti-bukti pelanggaran oleh Rektor dan Wakil Rektor III Muhammadiyah, yang terkesan selama ini membiarkan pelanggaran yang terjadi. Kami sebagai kader IMM menuntut secara resmi untuk pencopotan keduanya, karena tidak layak mengemban amanah lantaran tidak bisa patuh dan taat pada peraturan yang telah dibuat.” paparnya.

Pada wawancara eksklusif, Muhammad Awal juga menyampaikan kronologi pelaksanaan musyawarah PEMIRA Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Jambi yang berujung pada kekisruhan bahkan penundaan.
– Kesepakatan antara PK IMM UM Jambi dan pihak kampus bahwa PRESMA Kampus harus memiliki syahadah IMM.
– Warek III dan Dekan FEB menginisiasi pelaksanaan musyawarah PEMIRA PRESMA BEM UM Jambi pada 6 Agustus 2021 pukul 10.00 WIB tanpa dihadiri IMM. Dalam hal ini PK IMM UM Jambi mendapatkan kabar dan menuju ke ruangan untuk menyuarakan penolakan adanya musyawarah PEMIRA PRESMA BEM UM Jambi pukul 10.45 WIB.
– Selama pelaksanaan sidang ada aksi dorongan dari peserta dan melakukan aksi pengeroyokan kepada Kader IMM seperti video yang beredar.
– Warek III dan Dekan FEB memanggil dan mengintimidasi Kader PK IMM Jambi ke ruangan pukul 16.00 WIB.
– Warek III tetap melanjutkan musyawarah dan menetapkan PRESMA dengan mengingkari kesepakatan hingga selesai pukul 17.00 WIB.

Selain itu, Wawan Rudi Yanto selaku Demisoner Ketua PK IMM UMJ menuturkan, syarat untuk menjadi presiden BEM adalah memiliki sertifikat Darul Aqorm Dasar (DAD), namun itu tidak diterapkan dalam PEMIRA yang dibuka oleh Wakil Rektor III bersama Dekan FEB UMJ.

“Tiba-tiba ada PEMIRA tanpa diharuskan memenuhi DAD. Karena kami merasa pemira ini tidak sah, kami ke ruangan atas untuk menghentikan PEMIRA,” ujarnya pada Jumat (6/8).

Dikatakan Wawan, dirinya dan rekannya justru diusir saat tiba di lokasi PEMIRA. Hingga terjadilah aksi dorong hingga perkelahian.

“4 orang dari pihak kamimengalami luka lebam. Musyawarah ini pun tidak dibekali surat izin dari Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jambi. Makanya, harus dihentikan,” ujarnya.

Menanggapi kekisruhan PEMIRA, Wakil Rektor III UMJ, Siswoyo mengatakan PEMIRA dilakukan, karena presiden BEM sebelumya sudah vakum dan desakan dari berbagai organisasi di kampus. Ia pun mengatakan PEMIRA kali ini menggunakan cara musyawarah. Berbeda dengan PEMIRA pada tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya kita melakukan PEMIRA dengan pemilihan langsung (menyoblos). Karena masih pandemi Covid-19, maka dilakukan dengan cara musyawarah. Saya belum melihat itu (red: surat Satgas Covid-19 Kota Jambi). Saya pikir koordinasinya cukup dari satgas kampus,” ujarnya. (Tim)

Bagikan
error: