15 Hari Bersama Slogan Bapel Ceria

sekitarjambi.com – Di masa pandemi seperti saat ini, tak ada yang bisa menghindari penularan Covid-19. Meski ada segelintir orang maupun kelompok yang menganggap Covid-19 adalah “isapan jempol” sebuah konspirasi, namun nyatanya hingga kini telah 200 ribu lebih jiwa di Indonesia terinfeksi virus Jahannam tersebut. Tak hanya itu, ribuan jiwa di Indonesia pun turut menjadi tumbal keganasan virus yang belum ada obatnya hingga saat ini. Virus ini tak pandang bulu dalam memilih target. Mulai dari rakyat biasa, Atlet, Wali Kota, Bupati hingga pejabat selevel Presiden pun menjadi sasaran empuk.

Sebuah pengalaman pilu nan berharga, dialami penulis di kala itu. Ya.. bagaikan tersambar petir di siang bolong, penulis divonis positif Covid-19 pada Sabtu 19 September 2020 pagi. Isu pesan singkat via WhatsApp yang tengah beredar di pagi yang cerah itu, membuat penulis merasa shock sebelum akhirnya Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi Jambi menelpon secara langsung kepada penulis mengenai kabar tersebut.

Bunyinya kurang lebih seperti ini, “Assalamualaikum dindo. Harus sabar dan yang tabah ya. Hasil swab Jum’at 18 September 2020 atas nama dindo (read: penulis) dinyatakan positif Covid-19”. Penulis mendapat “gelar” pasien 372 asal Kota Jambi. Sebelum divonis positif Covid-19, penulis mengikuti uji Rapid Test massal di area perkantoran Gubernur Jambi pada Kamis 17 September 2020. Hasil Rapid Test menunjukkan dua garis yang berarti “Reaktif” dan harus mengikuti uji swab di Labkesda Provinsi Jambi.

Cukup lama bagi penulis untuk menenangkan diri hingga termenung, sebelum memberitahukan kabar menggelegar ini kepada keluarga. Semula penulis sama sekali tak menduga bakal menerima kabar buruk tersebut. Sebab, penulis merasa tidak pernah sama sekali memiliki kontak erat dengan pasien dalam pengawasan (PDP). Lambat laun pun, penulis harus memberitahu kabar tak sedap tersebut pada keluarga di rumah untuk bisa mengikhlaskan hal ini.

Usai divonis positif Covid-19, penulis secara kooperatif mendatangi IGD Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi pada Sabtu sore, atas saran dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi Jambi. Disana, penulis diminta menjelaskan secara detail mengenai aktivitas seminggu terakhir hingga melakukan medical check up. Berupa Rontgen paru-paru dan pengambilan sampel darah. Aktivitas penulis dalam keseharian, sebagai seorang jurnalis di salah satu media di Kota Jambi. Aktivitas mobile dalam peliputan, membuat penulis didatangi tamu yang tak diundang (read: Covid-19).

Usai mendapatkan surat jalan, penulis bersama pasien yang lain menuju rumah isolasi Bapelkes Pijoan dengan menggunakan kendaraan pribadi demi menghindari omongan tetangga sekitar rumah yang belum cerdas. Oh iya, penulis dinyatakan Orang Tanpa Gejala (OTG) dalam kasus ini setelah dilakukan pemeriksaan. Tak hanya itu, penulis langsung juga meminta kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi untuk segera melakukan traking kontak ke keluarga maupun rekan terdekat. Alhamdulillah, hasil tracking yang dilakukan negatif semua. Baik itu Rapid Test maupun uji swab.

Pengalaman Berharga Dimulai

Menjalani isolasi dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk, nyatanya bukan perkara yang sangat mudah meskipun penulis masuk dalam ketegori pribadi Introvert. Penulis terpaksa melakukan hal ini untuk menjaga jarak fisik dari siapapun termasuk keluarga maupun rekan keseharian. Meski berat, hal ini dilakukan semata-mata demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Penulis menjalani isolasi di hari pertama pada Sabtu 19 September 2020 malam. Seluruh Pasien Covid-19 berstatus OTG menjalani masa isolasi di Bapelkes Pijoan, Kabupaten Muaro Jambi. Awal mula penulis menjalani masa isolasi, pasien OTG di Bapelkes hanya sekitar 14 orang. Dukungan moril dari keluarga maupun kawan se-profesi pun turut berdatangan. Banyak juga dari mereka yang rela secara tulus, menawarkan diri sebagai pembawa kebutuhan bagi penulis setiap harinya.

Di rumah isolasi Bapelkes Pijoan, pasien akan menempati satu ruangan kamar lengkap dengan fasilitas bak hotel. Mulai dari tempat tidur, televisi kabel, AC, lemari hingga kamar mandi di dalam. Untuk kebutuhan gizi pun, penulis merasa tercukupi. Mulai dari pemberian makan tiga kali sehari hingga sejumlah asupan penunjang berupa obat maupun buah-buahan.

Tidak hanya diperhatikan dalam segi perawatan, tim medis disini juga turut memperhatikan dan menggenjot aspek psikologi pasien. Agar daya imun pasien terus terjaga, pihak Bapelkes Pijoan secara berkala mengajak para pasien untuk senam gembira yang dipandu langsung oleh perawat di rumah isolasi Bapelkes Pijoan.

Sekira pukul 09:00 pagi, tim medis mengajak pasien ke lapangan untuk berjemur dan senam dalam durasi kurang lebih satu jam. Pasien diminta turun satu persatu ke lapangan saat tim medis memanggil dari mic. Tak lupa tenaga kesehatan memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan pasien menggunakan masker. Musik pun dihidupkan kemudian senam dimulai. Pasien yang sedianya terlihat murung perlahan terlihat raut wajah gembira. Bahkan slogan yang disematkan itu berupa “Bapel Ceria”.

Pasien OTG di rumah isolasi Bapelkes Pijoan, dituntut untuk mandiri. Mulai membersihkan kamar hingga mencuci pakaian secara mandiri. Terdengar sahut-sahutan antar pasien kerap terdengar di balkon belakang kamar saat menjemur pakaian.

Kondisi Selama Diisolasi

Kala didiagnosis positif Covid-19, penulis belum memiliki gejala berarti. Hal ini diketahui hasil check up yang cukup baik. Mulai dari saturasi oksigen dalam darah berkisar di angka 96-99, suhu tubuh 36,6° Celcius hingga tensi yang menyentuh angka 132. Di hari keenam masa isolasi, penulis merasakan mules yang luar biasa. Perut seakan-akan sedang dikocok terus menerus. Kejadian ini berlangsung jelang hendak istirahat malam. Langkah tindakan spontan yang penulis lakukan kala itu hanya mengoleskan minyak kayu putih di perut serta meminumnya. Alhasil, kocokan tersebut berangsur membaik di pagi harinya.

Di hari kedelapan tepatnya Minggu 27 September 2020, penulis kembali mengikuti uji swab kedua. Kurang lebih ada sekitar 25 pasien yang mengikuti uji usap tersebut. Butuh waktu tiga hari lebih, penulis mendapatkan kabar hasil. Dan tepat di hari kesebelas masa isolasi Rabu 30 September 2020, hasil swab penulis negatif. Selanjutnya, penulis diperbolehkan pulang ke rumah pada hari kelima belas masa isolasi atas persetujuan dokter spesialis dan dinas kesehatan provinsi Jambi.

Penulis mendapatkan izin pulang setelah dinyatakan satu kali swab negatif setelah adanya ketentuan peraturan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK 01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Dalam aturan tersebut, pasien tidak perlu menunggu hasil swab kedua negatif untuk bisa pulang dari masa isolasi. perubahan yang ada dalam aturan ini merupakan revisi kelima dari KMK sebelumnya. Demikian cerita singkat dari penulis, semoga dapat memotivasi kawan-kawan di luar sana agar tidak menyepelekan protokol kesehatan anjuran Pemerintah. Dari pengalaman ini, penulis merasakan begitu hangatnya rasa kekeluargaan di dalam dunia jurnalis. Tak henti-hentinya, rekan se-profesi turut mensupport yang luar biasa terhadap penulis hingga dinyatakan sembuh. Sayangi diri kita sendiri demi keluarga tercinta di rumah. Salam sehat! (Fa)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: